October 15, 2026

Literasi

WhatsApp Image 2019-08-03 at 12.10.53

sdmpsalatiga.sch.id SALATIGA-SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga yang telah menggalakkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) mempersiapkan buku tentang Sirah Nabawiyah untuk menanamkan karakter kepada peserta didik.

Mendidik tidak hanya kegiatan transfer ilmu dari guru kepada muridnya namun bagaimana memberikan suri tauladan yang baik bagi peserta didiknya. SD Muhammadiyah Plus Salatiga ingin mewujudkan pemimpin masa depan yang cerdas berakhlak mulia mempersiapkan para pendidik untuk menjadi suri tauladan yang baik.

Buku Sirah Nabawiyah disiapkan untuk membentuk karakter tenaga pendidik supaya di contohkan kepada peserta didik. Tak kurang dari 100 buku telah dipersiapkan guna mewujudkan harapan yang mulia tersebut.

Kepala sekolah Ainul Huri menyampaikan, “Kami mempersiapkan 100 buku untuk dijadikan bahan bacaan tenaga pendidik dan peserta didik. Harapan kami para pendidik dapat meneladani akhlak nabi kemudian memberikan contoh kepada peserta didik,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa buku tersebut disediakan di perpustakaan SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga. Nantinya setiap pagi para pendidik dapat membacakan buku tersebut untuk mengawali pembelajaran.

WhatsApp Image 2017-03-16 at 09.12.51

SALATIGA – Buku adalah jendela dunia. Kunci untuk membukanya adalah membaca. Literasi di Indonesia saat ini mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Hasil penelitian literasi internasional yang dirilis Central Connecticut State University, menempatkan budaya literasi Indonesia masuk ke urutan 64 dari 65 negara yang diteliti. Itu artinya Indonesia menempati rangking kedua terburuk dari bawah tentang budaya literasi. Indonesia berada diantara Qatar dan Peru.

Hasil penelitian UNESCO pada tahun 2011, dari 1000 orang Indonesia hanya satu yang memiliki minat baca yang baik. Jadi, jika dibuat ke bentuk presentase budaya literasi di Indonesia sekitar 0,001. Begitu buruknya budaya literasi di negara ini. Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat, 90 persen penduduk usia di atas 10 tahun gemar menonton televisi, tetapi tidak suka membaca buku.

Hal ini menunjukkan kemampuan literasi masyarakat di Indonesia masih rendah, dikarenakan tingkat literasi siswa Indonesia masih jauh tertinggal oleh siswa dari negara lain. Dengan kata lain, minat baca masyarakat Indonesia mengalami kemunduran.

Kepala sekolah, Sutomo menyebutkan, kenyataan inilah yang menjadi pemicu semangat bagi SD Muhammadiyah (Plus) Saatiga membuat sebuah program yang bernama Pojok Baca. Program ini bertujuan untuk memberikan efek positif terhadap siswa didalam membaca buku. Dengan disediakannya 1 pojok baca di setiap kelas, dan beberapa pojok baca di lorong-lorong kelas diharapkan tumbuh budaya literasi di SD Muhammadiyah (Plus) Salatiga.

“Selain itu, program baca ini sangat berpangaruh kepada pengetahuan, perilaku dan prestasi siswa, karena buku-buku yang disediakan berupa buku cerita keislaman, dan buku pelajaran. Kita baru mencanangkan program ini, mudah-mudahan dapat memberikan efek positif pada dunia pendidikan, dan juga dapat meningkatkan minat baca siswa SD Muhammadiyah (Plus) Salatiga,” ungkap penerima Satya Lencana pendidikan tersebut.

WhatsApp Image 2017-02-25 at 08.12.06

SALATIGA-SD Muhammadiyah (Plus) Salatiga bekerjasama dengan Tim kreatif perpustakaan IAIN Salatiga memberikan penguatan untuk cinta dan budaya membaca pada siswa-siswi SD Muhammadiyah (Plus) Salatiga. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membangkitkan budaya membaca di lingkungan SD Muhammadiyah (Plus) Salatiga.

Selain itu, inovasi program literasi ini sebagai bentuk rasa cinta, peduli dan tanggung jawab akan Bahasa Indonesia, budaya daerah, dan budaya literasi di SD Muhammadiyah (Plus) Salatiga.

Sudah sejak  dua pekan terakhir ini tim kreatif IAIN Salatiga mendongeng di Perpustakaan SD Muhammadiyah (Plus) Salatiga. Kegiatan yang dilaksanakan setiap selesai kegiatan Morning Activity tersebut terbukti ampuh untuk mendongkrak minat baca siswa-siswi. Tak hanya itu dengan program mendongeng ini juga digunakan untuk menanamkan nilai-nilai sosial tanpa menyuruh atau menggurui. Boneka yang dijadikan tokoh utama dalam setiap dongeng dapat membawa anak lebih memperhatikan.

Sutomo, kepala sekolah mengatakan, “Kami mengadakan kerjasama dengan tim kreatif dari IAIN Salatiga untuk mendukung kegiatan literasi yang ada di sekolah kami. Alhamdulillah setelah 2 minggu berjalan budaya baca mulai tertanam pada siswa-siswi,” ungkap penerima Satya Lencana Pendidikan.

Lebih lanjut sekretaris FGM Jawa Tengah tersebut mengutarakan bahwa di setiap lorong-lorong kelas disediakan rak buku untuk mendekatkan buku pada siswa-siswi.