August 29, 2026

SDM PLUS

WhatsApp Image 2026-08-27 at 09.53.55 (2)

Salatiga – SD Muhammadiyah Plus Salatiga menggelar Diseminasi Sekolah Model pada Jumat, 15 Agustus 2026 dengan peserta seluruh guru SD Muhammadiyah Plus Salatiga. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah untuk memperkuat pemahaman dan praktik Pembelajaran Mendalam dalam proses pendidikan.

Diseminasi dilaksanakan sebagai ruang berbagi pengetahuan dan praktik baik agar pemahaman mengenai Pembelajaran Mendalam dapat diterapkan secara lebih luas oleh seluruh pendidik. Melalui kegiatan ini, guru diajak untuk melihat pembelajaran tidak hanya sebagai proses penyampaian materi, tetapi sebagai pengalaman belajar yang mendorong peserta didik untuk memahami konsep secara lebih utuh, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, serta membangun kemampuan berpikir dan karakter.

Konsep Pembelajaran Mendalam yang dibagikan dalam kegiatan ini diarahkan untuk mendorong pembelajaran yang lebih bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan. Guru juga didorong untuk merancang aktivitas yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk aktif mengeksplorasi, berdiskusi, memecahkan masalah, melakukan refleksi, dan mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Kegiatan diseminasi menjadi penting karena penguatan kompetensi guru perlu dilakukan secara bersama-sama. Pengetahuan yang diperoleh oleh guru dari berbagai pelatihan maupun pengembangan profesional kemudian dibagikan kepada rekan sejawat sehingga dapat menjadi praktik baik yang diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah.

Kepala SD Muhammadiyah Plus Salatiga, Suharwono, M.Pd., menyampaikan bahwa Diseminasi Sekolah Model merupakan bagian dari budaya belajar yang terus dibangun di lingkungan sekolah.

“Pembelajaran yang baik harus terus berkembang mengikuti kebutuhan anak dan perubahan zaman. Melalui diseminasi ini, kami ingin seluruh guru memiliki pemahaman yang sama dan mampu menerapkan Pembelajaran Mendalam sesuai karakteristik peserta didik masing-masing. Harapannya, kelas-kelas di SD Muhammadiyah Plus Salatiga semakin bermakna, menggembirakan, dan mampu membuat anak benar-benar memahami apa yang mereka pelajari,” ungkapnya.

Selain meningkatkan kompetensi pedagogis, kegiatan ini juga memperkuat budaya berbagi praktik baik antarguru. Setiap pendidik memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman rekan sejawat, mendiskusikan tantangan pembelajaran, dan bersama-sama mencari strategi yang paling sesuai untuk diterapkan di kelas.

Melalui Diseminasi Sekolah Model, SD Muhammadiyah Plus Salatiga menegaskan komitmennya untuk terus menjadi sekolah pembelajar yang adaptif dan berkemajuan. Penguatan Pembelajaran Mendalam diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga membentuk mereka menjadi pribadi yang kritis, kreatif, reflektif, dan berkarakter.

Indah Aviolita dan Iga Pradani berpose saat menerima best perform dalam pelatihan guru mipa bilingual

Yogyakarta – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh pendidik SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga. Dalam Pelatihan Guru MIPA Bilingual Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dua guru SD Muhammadiyah Plus Salatiga berhasil meraih predikat Best Perform pada bidang masing-masing.

Iga Pradani Aji Wiguna, S.Pd. berhasil meraih predikat Best Perform Math, sementara Indah Aviolita Herawati, S.Pd. meraih predikat Best Perform Science.

Pelatihan Guru MIPA Bilingual tersebut diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 20-23 Agustus 2026 di Hotel Horison Sentraland Semarang. Kegiatan diikuti guru-guru sekolah Muhammadiyah dari berbagai daerah dan dirancang untuk meningkatkan kompetensi pembelajaran Matematika dan IPAS dalam konteks bilingual.

Selama mengikuti pelatihan, peserta mendapatkan berbagai materi, mulai dari strategi pembelajaran MIPA bilingual, pendekatan Inquiry-Based Learning (IBL) dalam pembelajaran mendalam, penguatan Bahasa Inggris akademik untuk Matematika dan IPA, hingga strategi mengajar dan simulasi pembelajaran MIPA bilingual.
Selain penguasaan materi, peserta juga mendapatkan pengalaman melalui refleksi, umpan balik, manajemen kelas, pengembangan media pembelajaran, hingga integrasi pembelajaran MIPA bilingual dalam kegiatan kokurikuler.

Predikat Best Perform Math dan Best Perform Science menjadi apresiasi atas keaktifan, kompetensi, serta performa kedua guru selama mengikuti rangkaian pelatihan. Capaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidik SD Muhammadiyah Plus Salatiga mampu menunjukkan kualitas dan kontribusi positif dalam forum pengembangan profesional berskala nasional.

Kepala SD Muhammadiyah Plus Salatiga, Suharwono, M.Pd., menyampaikan rasa bangga atas capaian kedua guru tersebut.

“Alhamdulillah, prestasi bu Iga dan bu Indah menjadi kebanggaan bagi sekolah. Predikat Best Perform ini menunjukkan bahwa guru-guru kami memiliki semangat belajar, kompetensi, dan kemampuan untuk tampil optimal dalam forum pengembangan profesional. Kami berharap prestasi ini tidak berhenti sebagai penghargaan pribadi, tetapi menjadi energi untuk berbagi praktik baik dan meningkatkan kualitas pembelajaran MIPA di sekolah,” ungkapnya.

Sesuai dengan tujuan pelatihan, para peserta juga diharapkan melakukan diseminasi hasil pelatihan kepada guru lainnya setelah kembali ke sekolah.

Keberhasilan Iga Pradani Aji Wiguna, S.Pd. dan Indah Aviolita Herawati, S.Pd. menjadi Best Perform semakin menguatkan komitmen SD Muhammadiyah Plus Salatiga dalam membangun budaya guru pembelajar, meningkatkan kompetensi profesional, serta menghadirkan pembelajaran MIPA yang semakin kontekstual, aktif, mendalam, dan berwawasan global.

WhatsApp Image 2026-08-24 at 11.13.47

Salatiga – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh keluarga besar SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga. Melalui gerakan penggalangan infaq dan donasi untuk korban gempa NTT, sekolah berhasil menghimpun dana sebesar Rp19.075.000.

Donasi tersebut menjadi wujud nyata kepedulian siswa, guru, dan seluruh warga sekolah terhadap masyarakat yang terdampak bencana. Penggalangan dana juga menjadi bagian dari pendidikan karakter di sekolah, khususnya dalam menanamkan nilai empati, kepedulian sosial, keikhlasan, dan semangat berbagi kepada peserta didik.

Momen penyerahan donasi dilakukan di lingkungan SD Muhammadiyah Plus Salatiga dan turut melibatkan para siswa. Dalam dokumentasi penyerahan, tampak perwakilan siswa bersama pihak sekolah menyerahkan simbolis donasi sebesar Rp19.075.000.

Kegiatan ini menjadi pengalaman pembelajaran yang penting bagi peserta didik. Anak-anak tidak hanya diajak memahami pentingnya membantu sesama, tetapi juga belajar bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama.

Kepala SD Muhammadiyah Plus Salatiga, Suharwono, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kepedulian seluruh warga sekolah.

“Donasi ini bukan hanya tentang jumlah yang terkumpul, tetapi tentang nilai kepedulian yang tumbuh di hati anak-anak. Kami ingin mereka belajar bahwa ketika ada saudara yang sedang menghadapi musibah, kita hadir untuk membantu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Semoga donasi ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang terdampak gempa di NTT,” ungkapnya.

Penggalangan donasi ini sekaligus menegaskan bahwa pendidikan karakter di SD Muhammadiyah Plus Salatiga tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di kelas. Nilai-nilai kepedulian dan kemanusiaan juga ditanamkan melalui aksi nyata, sehingga siswa dapat belajar langsung tentang arti berbagi dan membantu sesama.

Melalui semangat kebersamaan, SD Muhammadiyah Plus Salatiga berharap gerakan kepedulian seperti ini dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari budaya sekolah dalam membentuk generasi cerdas, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat.

WhatsApp Image 2026-08-17 at 20.39.20

Salatiga – SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dalam rangkaian Kirab Budaya memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Salatiga ke-1276, SD Muhammadiyah Plus Salatiga berhasil meraih predikat terbaik pada kategori pendidikan.

Keikutsertaan SD Muhammadiyah Plus Salatiga menjadi bagian dari rombongan K3S Kecamatan Sidomukti. Sebanyak 50 tenaga pendidik dan kependidikan turut ambil bagian dalam kirab budaya sebagai wujud semangat untuk merawat keberagaman, persatuan, dan toleransi di Kota Salatiga.

Kirab budaya mengusung tema “Merajut Harmoni, Menuai Kemakmuran dalam Bingkai Salatiga Toleran.” Konsep tersebut diwujudkan melalui rangkaian simbol budaya yang sarat makna. Barisan diawali dengan eblek bambu sebagai penanda, dilanjutkan gapura dan penjor yang dimaknai sebagai simbol gerbang persaudaraan dan rasa syukur.

Penampilan kemudian menghadirkan Senopati Sultan Agung ing Ngalaga bersama pasukan bala tentara sebagai simbol kepemimpinan yang bijaksana, keberanian, sekaligus penjaga persatuan. Setelah itu, barisan dilanjutkan dengan Dewi Sri beserta para dayang, dengan latar janur dan gunungan wayang yang menggambarkan keseimbangan alam, kemakmuran, serta harmoni kebersamaan.

Sebagai penutup, ditampilkan ragam budaya yang menggambarkan harmoni masyarakat Salatiga dalam keberagaman, kemudian ditutup dengan simbol Hari Ulang Tahun Kota Salatiga sebagai doa dan harapan agar Salatiga senantiasa menjadi kota yang maju, nyaman, damai, dan penuh toleransi.

Predikat terbaik yang diraih dalam kategori pendidikan menjadi bentuk apresiasi atas kreativitas, kekompakan, serta pesan budaya yang dibawa oleh SD Muhammadiyah Plus Salatiga. Prestasi ini sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi ruang penting untuk merawat budaya, memperkuat persatuan, dan menanamkan nilai toleransi kepada generasi muda.

Bagi SD Muhammadiyah Plus Salatiga, capaian tersebut bukan sekadar penghargaan dalam sebuah kirab, tetapi menjadi pengingat bahwa sekolah memiliki peran dalam ikut menjaga kekayaan budaya sekaligus membangun karakter peserta didik yang menghargai keberagaman.

Selamat dan sukses SD Muhammadiyah Plus Salatiga!
Terbaik Kategori Pendidikan – Kirab Budaya HUT Kota Salatiga ke-1276. 🇮🇩🎉

WhatsApp Image 2026-08-21 at 12.31.03 (1)

Salatiga – Dalam upaya menumbuhkan budaya literasi dan meningkatkan minat baca peserta didik, Perpustakaan Sang Surya SD Muhammadiyah Plus Salatiga meluncurkan program SAKA (Saatnya Kita Membaca).

Program SAKA menjadi salah satu gerakan literasi sekolah yang mengajak seluruh peserta didik untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Melalui program ini, membaca tidak hanya dilakukan di dalam ruang perpustakaan, tetapi juga dihadirkan lebih dekat dengan siswa melalui keberadaan pojok baca di lingkungan sekolah.

Salah satu kegiatan utama dalam program SAKA adalah Sedekah Buku. Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk menyumbangkan buku-buku yang mereka miliki untuk kemudian dikumpulkan dan ditempatkan di berbagai pojok baca SD Muhammadiyah Plus Salatiga.

Sedekah buku menjadi bentuk nyata kepedulian siswa terhadap budaya literasi. Buku yang disumbangkan tidak berhenti menjadi koleksi pribadi, tetapi dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh teman-teman lainnya. Dengan demikian, satu buku dapat menghadirkan manfaat dan pengetahuan bagi lebih banyak siswa.

Kepala Perpustakaan Sang Surya, Tatik Himatul, menyampaikan bahwa program SAKA diharapkan dapat membangun kebiasaan membaca yang tumbuh dari lingkungan sekolah.

“Melalui SAKA, kami ingin menghadirkan budaya membaca yang lebih dekat dengan anak-anak. Sedekah buku menjadi bagian penting karena anak-anak belajar bahwa berbagi ilmu juga dapat dilakukan melalui buku. Buku yang mereka berikan hari ini dapat menjadi jendela pengetahuan bagi teman-temannya,” ungkapnya.

Keberadaan pojok baca di berbagai area sekolah juga diharapkan membuat siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk membaca di sela-sela aktivitas pembelajaran. Lingkungan sekolah pun perlahan dibangun menjadi ruang yang ramah literasi, tempat siswa dapat menemukan buku dengan mudah dan menjadikan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan.

Program SAKA (Saatnya Kita Membaca) menjadi langkah Perpustakaan Sang Surya untuk terus menghidupkan budaya literasi di SD Muhammadiyah Plus Salatiga. Sebab, gerakan literasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar—satu buku yang dibagikan dapat menjadi awal dari tumbuhnya satu kebiasaan membaca.

📚 SAKA – Saatnya Kita Membaca
🤝 Sedekah Buku, Berbagi Ilmu, Menumbuhkan Literasi.