Murid Belajar Bertanya, Guru Belajar Mendengarkan
“Bu, kalau es mencair berarti es itu sedang sakit, ya?”
Pertanyaan itu terlontar dari seorang murid kelas III SD Muhammadiyah Plus 1 Salatiga ketika mengamati es batu yang perlahan mencair di atas meja praktikum. Beberapa temannya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Dahulu, mungkin saya akan langsung menjelaskan bahwa es mencair karena menerima kalor. Namun pagi itu saya memilih untuk tidak segera memberikan jawaban.
“Menurut kalian, apakah es benar-benar sedang sakit? Mengapa kalian berpikir demikian?”
Seketika suasana kelas berubah. Tangan-tangan kecil mulai terangkat. Ada yang mengaitkannya dengan panas matahari, ada yang menyebut udara sekitar, bahkan beberapa murid mendekati meja praktikum untuk mengamati lebih saksama. Mereka berdiskusi, saling menyampaikan alasan, sekaligus belajar menghargai pendapat teman.
Di tengah diskusi, murid yang sebelumnya mengajukan pertanyaan itu kembali mengangkat tangan. Saat itulah saya menyadari bahwa yang sedang tumbuh di dalam kelas bukan sekadar pemahaman tentang perubahan wujud benda, melainkan keberanian berpikir, bertanya, dan mengemukakan pendapat.

Pengalaman sederhana tersebut menjadi titik balik perjalanan saya sebagai guru. Saya mulai bertanya kepada diri sendiri, mengapa pertanyaan-pertanyaan seperti itu jarang muncul? Apakah murid kurang memiliki rasa ingin tahu? Ataukah pembelajaran yang selama ini berlangsung belum benar-benar memberi ruang bagi mereka untuk berpikir?
Refleksi itu kemudian kami lakukan bersama guru-guru di SD Muhammadiyah Plus 1 Salatiga. Kami menemukan bahwa pembelajaran masih sering berpusat pada guru. Murid mampu mengerjakan soal yang serupa dengan contoh, tetapi masih ragu ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan penalaran. Dalam diskusi kelompok, hanya beberapa anak yang berani berbicara, sementara yang lain memilih diam karena takut salah.
Padahal, tantangan pendidikan saat ini tidak lagi sekadar membuat peserta didik menguasai materi pelajaran. Mereka perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi, berkolaborasi, sekaligus memiliki karakter yang kuat agar siap menghadapi perubahan zaman. Semangat inilah yang kemudian diperkuat melalui kebijakan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), yang menekankan pembelajaran berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).
Berangkat dari refleksi tersebut, lahirlah inovasi BERDAYA, akronim dari Berkesadaran, Eksploratif, Reflektif, Diferensiatif, Aktif, Yakin, dan Aplikatif. BERDAYA bukan sekadar model pembelajaran, melainkan perubahan cara pandang bahwa setiap murid memiliki potensi yang akan berkembang ketika guru lebih banyak mendengarkan daripada menjelaskan, lebih sering mengajukan pertanyaan daripada memberikan jawaban, serta memberi kepercayaan kepada murid untuk membangun pengetahuannya sendiri.
Dalam pembelajaran BERDAYA, proses belajar selalu diawali dengan pengalaman yang dekat dengan kehidupan murid. Guru menghadirkan fenomena sehari-hari, video, permainan edukatif, atau eksperimen sederhana yang memancing rasa ingin tahu. Dari situlah muncul berbagai pertanyaan yang kemudian dikembangkan menjadi penyelidikan, diskusi, hingga penyelesaian masalah secara kolaboratif.
Perlahan suasana kelas berubah. Murid yang sebelumnya hanya menunggu penjelasan guru mulai aktif bertanya, memberikan alasan, membandingkan hasil pengamatan, bahkan saling mengoreksi dengan santun. Mereka belajar bahwa kesalahan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian penting dari proses belajar.

BERDAYA juga memberi ruang bagi setiap murid untuk belajar sesuai potensinya. Ada yang menunjukkan pemahamannya melalui poster, peta konsep, model sederhana, video, maupun presentasi. Guru tidak lagi hanya mengapresiasi jawaban yang benar, tetapi juga menghargai proses berpikir, kreativitas, dan keberanian mencoba.
Perubahan itu semakin terasa beberapa minggu kemudian. Murid yang sama kembali bertanya, “Bu, kalau hujan berasal dari air yang menguap, berarti awan itu seperti tempat menyimpan air sebelum turun ke bumi?”
Saya kembali tidak langsung menjawab. Seluruh murid berdiskusi menggunakan berbagai sumber belajar. Setelah saling bertukar pendapat dan mempresentasikan hasilnya, mereka akhirnya mampu menyimpulkan sendiri bahwa awan merupakan kumpulan butiran air hasil proses kondensasi.
Momen tersebut menjadi bukti bahwa pengetahuan yang dibangun sendiri melalui pengalaman akan jauh lebih bermakna daripada sekadar menerima penjelasan guru.
Perubahan tidak hanya tampak dari suasana kelas, tetapi juga dari hasil belajar. Rata-rata capaian murid meningkat dari sekitar 60 menjadi 90. Lebih penting lagi, mereka menjadi lebih percaya diri, mampu bernalar kritis, menghargai pendapat teman, bekerja sama dalam menyelesaikan masalah, serta berani mengemukakan gagasan. Budaya ini kemudian berkembang melalui kolaborasi antarguru sehingga BERDAYA tidak berhenti sebagai inovasi di satu kelas, tetapi menjadi budaya belajar di sekolah.
Pengalaman tersebut membuktikan bahwa transformasi pendidikan tidak selalu membutuhkan teknologi yang canggih ataupun program yang rumit. Perubahan justru dimulai dari hal yang paling sederhana, yakni cara guru memandang murid. Ketika guru bersedia mendengarkan, memberikan ruang bertanya, dan mempercayai kemampuan murid untuk menemukan pengetahuannya sendiri, ruang kelas berubah menjadi tempat tumbuhnya rasa ingin tahu, keberanian berpikir, dan pembelajaran yang benar-benar bermakna.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa pendidikan bukanlah tentang seberapa banyak guru menjelaskan, melainkan seberapa besar kesempatan yang diberikan kepada murid untuk berpikir, bertanya, dan menemukan makna belajarnya sendiri. Pertanyaan sederhana, “Bu, kalau es mencair berarti es itu sedang sakit, ya?”, menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa ketika diberi ruang untuk bereksplorasi dan menyampaikan gagasannya. Dari ruang kelas yang dipenuhi dialog, rasa ingin tahu, dan keberanian berpikir, tumbuh generasi yang bernalar kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, serta berkarakter. Setiap ruang kelas yang memberdayakan sesungguhnya sedang menanamkan benih-benih kepemimpinan, integritas, dan inovasi. Sebab, Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak dibangun hanya melalui kebijakan besar atau kemajuan teknologi, tetapi dimulai dari jutaan ruang kelas yang memerdekakan cara berpikir setiap anak. Dari ruang kelas hari ini, masa depan Indonesia sedang diwujudkan.

