August 27, 2026

Pembelajaran menyenangkan

WhatsApp Image 2026-07-31 at 10.06.11 (1)

Murid Belajar Bertanya, Guru Belajar Mendengarkan

“Bu, kalau es mencair berarti es itu sedang sakit, ya?”

Pertanyaan itu terlontar dari seorang murid kelas III SD Muhammadiyah Plus 1 Salatiga ketika mengamati es batu yang perlahan mencair di atas meja praktikum. Beberapa temannya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Dahulu, mungkin saya akan langsung menjelaskan bahwa es mencair karena menerima kalor. Namun pagi itu saya memilih untuk tidak segera memberikan jawaban.

“Menurut kalian, apakah es benar-benar sedang sakit? Mengapa kalian berpikir demikian?”

Seketika suasana kelas berubah. Tangan-tangan kecil mulai terangkat. Ada yang mengaitkannya dengan panas matahari, ada yang menyebut udara sekitar, bahkan beberapa murid mendekati meja praktikum untuk mengamati lebih saksama. Mereka berdiskusi, saling menyampaikan alasan, sekaligus belajar menghargai pendapat teman.

Di tengah diskusi, murid yang sebelumnya mengajukan pertanyaan itu kembali mengangkat tangan. Saat itulah saya menyadari bahwa yang sedang tumbuh di dalam kelas bukan sekadar pemahaman tentang perubahan wujud benda, melainkan keberanian berpikir, bertanya, dan mengemukakan pendapat.

Pengalaman sederhana tersebut menjadi titik balik perjalanan saya sebagai guru. Saya mulai bertanya kepada diri sendiri, mengapa pertanyaan-pertanyaan seperti itu jarang muncul? Apakah murid kurang memiliki rasa ingin tahu? Ataukah pembelajaran yang selama ini berlangsung belum benar-benar memberi ruang bagi mereka untuk berpikir?

Refleksi itu kemudian kami lakukan bersama guru-guru di SD Muhammadiyah Plus 1 Salatiga. Kami menemukan bahwa pembelajaran masih sering berpusat pada guru. Murid mampu mengerjakan soal yang serupa dengan contoh, tetapi masih ragu ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan penalaran. Dalam diskusi kelompok, hanya beberapa anak yang berani berbicara, sementara yang lain memilih diam karena takut salah.

Padahal, tantangan pendidikan saat ini tidak lagi sekadar membuat peserta didik menguasai materi pelajaran. Mereka perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi, berkolaborasi, sekaligus memiliki karakter yang kuat agar siap menghadapi perubahan zaman. Semangat inilah yang kemudian diperkuat melalui kebijakan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), yang menekankan pembelajaran berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).

Berangkat dari refleksi tersebut, lahirlah inovasi BERDAYA, akronim dari Berkesadaran, Eksploratif, Reflektif, Diferensiatif, Aktif, Yakin, dan Aplikatif. BERDAYA bukan sekadar model pembelajaran, melainkan perubahan cara pandang bahwa setiap murid memiliki potensi yang akan berkembang ketika guru lebih banyak mendengarkan daripada menjelaskan, lebih sering mengajukan pertanyaan daripada memberikan jawaban, serta memberi kepercayaan kepada murid untuk membangun pengetahuannya sendiri.

Dalam pembelajaran BERDAYA, proses belajar selalu diawali dengan pengalaman yang dekat dengan kehidupan murid. Guru menghadirkan fenomena sehari-hari, video, permainan edukatif, atau eksperimen sederhana yang memancing rasa ingin tahu. Dari situlah muncul berbagai pertanyaan yang kemudian dikembangkan menjadi penyelidikan, diskusi, hingga penyelesaian masalah secara kolaboratif.

Perlahan suasana kelas berubah. Murid yang sebelumnya hanya menunggu penjelasan guru mulai aktif bertanya, memberikan alasan, membandingkan hasil pengamatan, bahkan saling mengoreksi dengan santun. Mereka belajar bahwa kesalahan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian penting dari proses belajar.

BERDAYA juga memberi ruang bagi setiap murid untuk belajar sesuai potensinya. Ada yang menunjukkan pemahamannya melalui poster, peta konsep, model sederhana, video, maupun presentasi. Guru tidak lagi hanya mengapresiasi jawaban yang benar, tetapi juga menghargai proses berpikir, kreativitas, dan keberanian mencoba.

Perubahan itu semakin terasa beberapa minggu kemudian. Murid yang sama kembali bertanya, “Bu, kalau hujan berasal dari air yang menguap, berarti awan itu seperti tempat menyimpan air sebelum turun ke bumi?”

Saya kembali tidak langsung menjawab. Seluruh murid berdiskusi menggunakan berbagai sumber belajar. Setelah saling bertukar pendapat dan mempresentasikan hasilnya, mereka akhirnya mampu menyimpulkan sendiri bahwa awan merupakan kumpulan butiran air hasil proses kondensasi.

Momen tersebut menjadi bukti bahwa pengetahuan yang dibangun sendiri melalui pengalaman akan jauh lebih bermakna daripada sekadar menerima penjelasan guru.

Perubahan tidak hanya tampak dari suasana kelas, tetapi juga dari hasil belajar. Rata-rata capaian murid meningkat dari sekitar 60 menjadi 90. Lebih penting lagi, mereka menjadi lebih percaya diri, mampu bernalar kritis, menghargai pendapat teman, bekerja sama dalam menyelesaikan masalah, serta berani mengemukakan gagasan. Budaya ini kemudian berkembang melalui kolaborasi antarguru sehingga BERDAYA tidak berhenti sebagai inovasi di satu kelas, tetapi menjadi budaya belajar di sekolah.

Pengalaman tersebut membuktikan bahwa transformasi pendidikan tidak selalu membutuhkan teknologi yang canggih ataupun program yang rumit. Perubahan justru dimulai dari hal yang paling sederhana, yakni cara guru memandang murid. Ketika guru bersedia mendengarkan, memberikan ruang bertanya, dan mempercayai kemampuan murid untuk menemukan pengetahuannya sendiri, ruang kelas berubah menjadi tempat tumbuhnya rasa ingin tahu, keberanian berpikir, dan pembelajaran yang benar-benar bermakna.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa pendidikan bukanlah tentang seberapa banyak guru menjelaskan, melainkan seberapa besar kesempatan yang diberikan kepada murid untuk berpikir, bertanya, dan menemukan makna belajarnya sendiri. Pertanyaan sederhana, “Bu, kalau es mencair berarti es itu sedang sakit, ya?”, menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa ketika diberi ruang untuk bereksplorasi dan menyampaikan gagasannya. Dari ruang kelas yang dipenuhi dialog, rasa ingin tahu, dan keberanian berpikir, tumbuh generasi yang bernalar kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, serta berkarakter. Setiap ruang kelas yang memberdayakan sesungguhnya sedang menanamkan benih-benih kepemimpinan, integritas, dan inovasi. Sebab, Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak dibangun hanya melalui kebijakan besar atau kemajuan teknologi, tetapi dimulai dari jutaan ruang kelas yang memerdekakan cara berpikir setiap anak. Dari ruang kelas hari ini, masa depan Indonesia sedang diwujudkan.

WhatsApp Image 2026-07-29 at 09.53.33 (2)

Salatiga – SD Muhammadiyah Plus Salatiga terus memperkuat kemitraan antara sekolah dan keluarga melalui program Parent Teaching Class, sebuah kegiatan yang memberikan kesempatan kepada orang tua untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan inspirasi secara langsung kepada peserta didik di dalam kelas.

Program ini menjadi salah satu implementasi pembelajaran kontekstual yang menghadirkan narasumber dari berbagai profesi. Melalui Parent Teaching Class, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari guru, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar langsung dari orang tua yang memiliki latar belakang keahlian yang beragam. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih nyata, menarik, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam setiap sesi, para orang tua membawakan materi sesuai bidang profesinya, seperti kesehatan, kewirausahaan, teknologi, lingkungan, hingga berbagai keterampilan hidup (life skills). Penyampaian materi dikemas secara interaktif melalui diskusi, demonstrasi, permainan edukatif, maupun praktik langsung sehingga siswa dapat belajar dengan suasana yang menyenangkan.

Kepala SD Muhammadiyah Plus Salatiga, Suharwono, M.Pd., menyampaikan bahwa Parent Teaching Class merupakan salah satu bentuk sinergi nyata antara sekolah dan keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak.

“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Melalui Parent Teaching Class, kami ingin menghadirkan orang tua sebagai mitra strategis sekolah. Kehadiran mereka di kelas tidak hanya memperkaya pengalaman belajar siswa, tetapi juga menunjukkan bahwa pendidikan terbaik lahir dari kolaborasi yang kuat antara sekolah dan keluarga,” ungkapnya.

Program ini juga sejalan dengan penguatan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yang menempatkan keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Keterlibatan aktif orang tua dalam proses pembelajaran menjadi salah satu bentuk penguatan fungsi keluarga dalam membentuk karakter, kecakapan hidup, serta kesiapan anak menghadapi tantangan masa depan.

Antusiasme siswa selalu terlihat dalam setiap pelaksanaan Parent Teaching Class. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba berbagai aktivitas yang dipandu oleh narasumber. Sementara itu, para orang tua merasakan pengalaman baru dalam berkontribusi secara langsung terhadap proses pendidikan putra-putri mereka.

Melalui program Parent Teaching Class, SD Muhammadiyah Plus Salatiga berharap tercipta budaya kolaborasi yang semakin kuat antara sekolah dan keluarga. Dengan semangat kebersamaan, sekolah optimistis mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, keterampilan hidup yang baik, serta kesiapan menghadapi perkembangan zaman.

WhatsApp Image 2026-07-28 at 17.37.27 (3)

Salatiga – SD Muhammadiyah Plus Salatiga terus berkomitmen meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengembangan kompetensi guru secara berkelanjutan. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah TERMOS HANTARAN (Internet, Media Sosial, dan Pelatihan Antar Teman), sebuah program pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi mengajar Bahasa Inggris melalui budaya belajar bersama antar guru.

Inovasi ini digagas oleh Sri Walji Hasthanti, M.Pd., yang melihat pentingnya membangun budaya belajar kolaboratif di kalangan guru. Melalui TERMOS HANTARAN, guru tidak hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga berperan sebagai narasumber yang saling berbagi pengalaman, praktik baik, dan solusi atas berbagai tantangan pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar.

Program TERMOS HANTARAN juga menjadi langkah strategis SD Muhammadiyah Plus Salatiga dalam menyikapi kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang menetapkan mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di Sekolah Dasar mulai Tahun Ajaran 2027/2028. Melalui program ini, sekolah mempersiapkan guru-guru agar memiliki kompetensi pedagogis, profesional, dan digital yang semakin baik sehingga siap mengimplementasikan pembelajaran Bahasa Inggris secara optimal ketika kebijakan tersebut diberlakukan.

Program ini berangkat dari semangat bahwa peningkatan kualitas pembelajaran tidak selalu harus melalui pelatihan berskala besar. Dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar digital, seperti internet dan media sosial edukatif, serta dipadukan dengan kegiatan pelatihan antar teman (peer teaching), guru dapat terus mengembangkan kompetensinya secara mandiri, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan di kelas.

Dalam pelaksanaannya, guru-guru Bahasa Inggris saling berbagi strategi pembelajaran, metode mengajar yang komunikatif, pemanfaatan media pembelajaran digital, penyusunan aktivitas berbasis life skills, hingga praktik penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Kegiatan dikemas secara interaktif melalui praktik mengajar (microteaching), diskusi, refleksi, dan evaluasi bersama sehingga setiap guru memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

Sri Walji Hasthanti, M.Pd., selaku inovator TERMOS HANTARAN, menjelaskan bahwa program ini lahir dari keyakinan bahwa guru memiliki potensi besar untuk saling mengembangkan kompetensi.

“Setiap guru memiliki pengalaman dan praktik baik yang sangat berharga. Melalui TERMOS HANTARAN, kami ingin membangun budaya saling belajar sehingga peningkatan kompetensi tidak bergantung pada pelatihan formal saja, tetapi menjadi kebiasaan yang tumbuh di lingkungan sekolah. Dengan demikian, guru akan lebih siap menghadapi perubahan kurikulum dan tuntutan pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar,” jelasnya.

Kepala SD Muhammadiyah Plus Salatiga, Suharwono, M.Pd., memberikan apresiasi terhadap lahirnya inovasi tersebut.

“TERMOS HANTARAN merupakan inovasi yang relevan dengan arah kebijakan pendidikan nasional. Kami tidak ingin menunggu hingga Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib. Persiapan harus dimulai dari sekarang agar guru memiliki kompetensi yang kuat dan siswa memperoleh layanan pembelajaran terbaik. Semangat belajar sepanjang hayat harus menjadi budaya seluruh pendidik,” ungkapnya.

Melalui TERMOS HANTARAN, SD Muhammadiyah Plus Salatiga terus memperkuat budaya Professional Learning Community (PLC) di lingkungan sekolah. Inovasi ini menjadi bukti bahwa peningkatan kualitas pendidikan dimulai dari guru yang terus belajar, berinovasi, dan saling menginspirasi, sehingga mampu menghadirkan pembelajaran Bahasa Inggris yang kreatif, komunikatif, dan menyenangkan bagi peserta didik serta siap menyongsong implementasi kebijakan pendidikan di masa mendatang.

WhatsApp Image 2026-07-28 at 20.22.11

Salatiga – SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga menggelar Sosialisasi Program Pembelajaran Tahun Ajaran Baru bagi wali murid kelas 1 hingga kelas 6. Kegiatan ini bertujuan memberikan gambaran menyeluruh mengenai program-program unggulan yang akan dilaksanakan selama satu tahun pelajaran, sehingga terjalin kesamaan visi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik.

Dalam kegiatan tersebut, masing-masing jenjang kelas memaparkan program pembelajaran, target capaian akademik, penguatan karakter, pembiasaan keislaman, kegiatan ekstrakurikuler, hingga berbagai program unggulan yang menjadi ciri khas SD Muhammadiyah Plus Salatiga. Melalui sosialisasi ini, wali murid memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai proses pendidikan yang akan dijalani putra-putrinya serta peran penting keluarga dalam mendukung keberhasilan belajar di rumah.

Kepala SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga, Suharwono, M.Pd., menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi yang erat dengan orang tua.

“Kami ingin seluruh orang tua memahami arah pendidikan yang kami bangun di SD Muhammadiyah Plus Salatiga. Ketika sekolah dan keluarga memiliki tujuan yang sama, proses pendidikan akan berjalan lebih efektif dan mampu menghasilkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan berakhlak mulia,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, sekolah juga menyampaikan kabar membanggakan bahwa SD Muhammadiyah Plus Salatiga menjadi satu-satunya Sekolah Dasar di Kota Salatiga yang berhasil mewakili daerah dalam Lomba Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) tingkat Provinsi Jawa Tengah. Prestasi ini menjadi bukti nyata komitmen sekolah dalam mengintegrasikan pendidikan kependudukan, penguatan karakter, serta pendidikan keluarga ke dalam proses pembelajaran.

Program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) di SD Muhammadiyah Plus Salatiga diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang menanamkan nilai-nilai tanggung jawab, perencanaan masa depan, kepedulian terhadap lingkungan, kesehatan, serta penguatan fungsi keluarga sebagai fondasi utama pendidikan anak. Nilai-nilai tersebut diintegrasikan dalam pembelajaran maupun berbagai program sekolah sehingga menjadi budaya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, SD Muhammadiyah Plus Salatiga berharap seluruh wali murid semakin memahami arah kebijakan dan program sekolah serta dapat menjadi mitra aktif dalam mendampingi perkembangan anak. Sinergi yang kuat antara sekolah dan keluarga diharapkan mampu mewujudkan peserta didik yang unggul dalam prestasi, kokoh dalam karakter, serta siap menghadapi tantangan masa depan.

WhatsApp Image 2026-07-28 at 17.35.25

Salatiga – SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga menggelar Sosialisasi Quranic Class Program (QCP) kepada wali murid sebagai langkah awal membangun kesamaan pemahaman antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi pendidikan Al-Qur’an bagi peserta didik. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kolaborasi sekolah dan keluarga demi menciptakan lingkungan belajar yang selaras, baik di sekolah maupun di rumah.

Dalam sosialisasi tersebut, pihak sekolah memaparkan secara lengkap mengenai konsep Quranic Class Program (QCP), mulai dari tujuan program, metode pembelajaran Al-Qur’an, target hafalan, sistem murojaah, pembiasaan adab Islami, hingga bentuk pendampingan yang diharapkan dari orang tua selama proses belajar berlangsung.

Kepala SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga, Suharwono, M.Pd., menyampaikan bahwa keterlibatan orang tua merupakan salah satu faktor utama keberhasilan program.

“Quranic Class Program akan berjalan optimal apabila sekolah dan orang tua memiliki visi yang sama. Anak-anak belajar Al-Qur’an di sekolah, kemudian mendapatkan penguatan dan pendampingan di rumah. Sinergi inilah yang akan membentuk generasi Qurani yang tidak hanya mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Suharwono.

Pelaksanaan sosialisasi ini juga selaras dengan komitmen SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga sebagai Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). Salah satu fokus SSK adalah memperkuat fungsi keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama. Melalui keterlibatan aktif orang tua dalam berbagai program sekolah, termasuk Quranic Class Program, diharapkan tercipta keluarga yang mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik dari aspek spiritual, karakter, maupun sosial.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi pemaparan materi, diskusi, dan tanya jawab. Wali murid tampak antusias menggali informasi mengenai pelaksanaan QCP serta berbagai strategi pendampingan yang dapat diterapkan di rumah agar target pembelajaran Al-Qur’an dapat tercapai secara maksimal.

Melalui kegiatan ini, SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga berharap terjalin kemitraan yang semakin erat antara sekolah dan orang tua. Dengan dukungan bersama, Quranic Class Program diharapkan mampu melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an, berakhlak mulia, memiliki karakter Islami yang kuat, serta menjadi bekal dalam membangun keluarga berkualitas di masa depan.