August 28, 2026

SD Muhammadiyah Plus Salatiga

ori

SALATIGA – Puluhan siswa SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga dibuat terkesima dengan kehadiran Hamako, perempuan aktivis kebudayaan asal Jepang yang datang bersama dosen Pusat Studi Jepang UNS Solo, Dr Suciati, Jumat (23/8). Hamako datang membagikan pengalaman keterampilan tradisional Jepang yakni seni origami atau melipat kertas.
Tentu saja Belajar origami dari pakarnya langsung warga Jepang akan lebih menarik daripada diajarkan orang lain.Syifa, salah satu siswa mengaku senang bisa belajar oriami dari orang Jepang. Terlebih Hamako sengaja mengajarkan origami terbaru yang belum diajarkan. ”Bentuk mainan yang dibuat ini lebih menarik. Tidak seperti biasanya diajarkan teman dan guru,” ujar Syifa.
Dengan bahasa Indonesia yang kurang fasih, Hamako berusaha memberikan penjelasan tahapan membuat sebuah bentuk. Dia bisa berbahasa Indonesia karena pernah lima tahun berada di Indonesia mendampingi suaminya yang bekerja di Toyota. Sekembalinya ke Jepang dia aktif di bidang sosial serta kebudayaan, dan akhirnya bisa kembali ke Indonesia.
Berbagi Pengalaman
”Ayo mulai dari melipat ujungnya, lalu kedua ujung ditemukan,” ungkap Hamako kepada salah satu siswa. Dr Suciati dari Pusat Studi Jepang UNS mengatakan, pihaknya menjalin kerja sama dengan beberapa sekolah termasuk SD Muhammadiyah. Hamako selama ini dikenal sangat menguasai origami sehingga ketika berada di sekolah-sekolah diminta berbagi pengalaman. Origami dianggap sebagai bentuk keterampilan yang sangat mendukung pendidikan kreativitas anak, kemampuan kognitif, psikomotorik, dan lainnya. ”Yang jelas banyak manfaat origami dalam bidang pendidikan sehingga Pusat Studi Jepang UNS ikut menyebarkan keterampilan itu ketika berkunjung ke sekolahsekolah,” kata Suciati.
Kepala SD Muhammadiyah, Sutomo MAg menjelaskan, banyak pengalaman siswa dari kegiatan tersebut. Kerja sama di bidang lainnya guna membantu pengembangan berpikir anak akan terus dilakukan.

CAMAT SIDOMUKTI SERAHKAN BANTUAN

SALATIGA – SD Muhammadiyah Plus Salatiga menyalurkan pakaian pantas pakai kepada warga di Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga, Rabu (31/7) kemarin. Selain pakaian pantas pakai, diberikan pula bantuan sembako kepada warga yang berhak menemrima bantuan ini. Ini merupakan kegiatan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan tahun 2013.

Secara simbolis bantuan sembako itu diserahkan oleh Camat Sidomukti Yayat Nur Hayat didampingi Kepala SD Muhammadiyah Plus Salatiga Sutomo. Selain kegiatan bakti sosial itu, SD Muhammadiyah Plus juga menggelar pesantren romadhon serta homestay.

“Kegiatan bhakti sosial ini diawali dengan pesantren Ramadhan lalu dilanjutkan dengan homestay di rumah warga. Tidak kurang 63 siswa kelas 6 juga menggelar acara berbuka, tadarus tidur dan sahur bersama masyarakat sekitar sekolah. Tujuannya diantaranya untuk menanamkan kecerdasan sosial siswa dan manfaat berbagi kepada kaum dhuafa. Pakaian pantas pakai dan sembako ini merupakan sumbangan dari para orangtua maupun wali murid. Dan terkumpul sebanyak 415 paket,” terang Sutomo.

Muhammadiyah Plus ini tergolong sekolah baru dan berlokasi di Jalan Suropati 14 Togaten, Mangunsari dengan jumlah siswa sebanyak 550 siswa dan jumlah pengajarnya sebanyak 35 guru dan karyawan 9 orang.

sd

SIDOMUKTI – Sebanyak 64 siswa kelas 6 SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga mengikuti homestay atau bermalam di rumah penduduk dalam rangka Program Pesantren Ramadan, Selasa-Rabu (30-31/7). Kegiatan itu dipusatkan di Perum Griya Dukuh Asri Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga.
Siswa yang mengikuti program itu diwajibkan menjalankan tradisi keislaman yang berlangsung di wilayah setempat, di bawah naungan takmir Masjid Nurul Islam Perum Griya Dukuh Asri Warak. Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Sutomo MAg menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan menanamkan kecerdasan sosial dan membentuk karakter anak, dengan interaksi/praktik langsung ke rumah penduduk yang menjadi orang tua asuh. ”Ini merupakan program yang akan kami terus kembangkan sebagai bagian dari penanaman jiwa sosial dan karakter,” kata Sutomo, kemarin. Menurutnya kegiatan homestay merupakan program pembelajaran di luar sekolah. Dengan kegiatan ini siswa memperoleh pengalaman dan kesan yang sangat berharga, karena dapat belajar langsung ke masyarakat, tanpa kehadiran orang tua kandung.
Pahami Benturan
Kegiatan ini disambut baik pengurus takmir Masjid Nurul Islam Drs Tri Anjar H MPd dan ketua RW 9 Warak Drs Suparno, serta tokoh masyarakat setempat Drs Sugiman MSi. Meskipun hanya sehari semalam, diharapkan tertanam kebersamaan dan memahami hidup serta perbedaan dengan orang tua asuh tempat tinggal siswa. Warga juga terkesan dengan materi pesantren, aktivitas buka puasa bersama, dan dilanjutkan dengan tarawih bersama.
Bahkan ceramah di masjid diisi oleh dai cilik SD Muhammadiyah Plus yakni Wildan Mauzakawali. Wildan merupakan peraih juara 1 lomba pildacil tingkat Kota Salatiga. Adapun kegiatan tadarus siswa dibimbing orang tua asuh serta sahur bersama. ”Orang tua asuh saya baik lho, menu masakannya juga cocok dan nikmat,” ujar Aurel, salah satu siswa.

asf

SALATIGA – Tahun ini SD Muhammadiyah Plus Salatiga meraih prestasi yang cukup membanggakan dalam pelaksanaan ujian nasional (UN). Sebanyak 11 siswa meraih nilai 10,00, yakni 9 siswa untuk mata pelajaran (mapel) matematika dan 2 siswa meraih nilai 10 mapel Bahasa Indonesia. Tidak hanya itu, SD Muhammadiyah Plus sebagai sekolah swasta mampu menduduki peringkat 7 kelulusan SD di Salatiga dengan nilai rata-rata 25,45.
”Jadi 59 siswa kami tidak hanya sekadar lulus 100%, tetapi juga mampu meraih prestasi kelulusan dan perolehan nilai terbaik,” kata Kepala SD Muhammadiyah Plus, Sutomo MAg, di sela-sela Khotmil Quran dan Akhirrussanah siswa kelas 6 di Grand Wahid Hotel, baru-baru ini. Sutomo mengungkapkan, siswa peraih nilai tertinggi adalah Kennisa Adristi Susanto (28,50), Lu’lu’ Ulayya (28,40), dan Noviandini Rachmawati (28,15).
Dia juga memberikan apresiasi dan terima kasih atas usaha siswa, orang tua, dan guru yang telah memberikan bimbingan sehingga siswa bisa meraih hasil maksimal dalam UN. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Drs Susanto memacu semangat agar SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga, selalu melakukan inovasi, kreasi, dan siap terhadap perubahan, untuk kemajuan pendidikan. Dia juga salut karena SD Muhammadiyah bisa berprestasi di berbagai bidang.
Sementara itu dalam acara akhirussanah digelar pentas tari, menyanyi, dan opera bertema ”Andeande Lumut Mencari Anak Cerdas Berakhlak Mulia”. Dalam opera itu siswa membawakan cerita rakyat yang disisipi dengan cerita positif tentang akhlak yang harus dijunjung tinggi, untuk meraih cita-cita di masa mendatang.

hh

Peringati Hari Hak Asasi Binatang

SALATIGA – Banyak yang tidak tahu, peringatan Hari Hak Asasi Binatang sebenarnya sudah sejak lama diperingati pecinta dan penyelamat lingkungan hidup. Ya, Hari Hak Asasi Binatang atau hewan jatuh setiap tanggal 15 Oktober. Inti dari peringatan tersebut adalah bagaimana melestarikan kehidupan hewan di mana saja. Ini seperti yang dilakukan siswa kelas V SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga, Senin kemarin, dengan menggelar kegiatan penyelematan lingkungan hewan dan habitatnya di sekitar Danau Rawapening, di wilayah Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.
Di lokasi Tempat Pelelangan Ikan dan objek wisata Bukit Cinta tersebut, puluhan siswa melepas ribuan bibit ikan mujahir ke Rawapening. ’’Makna dari pelepasan ikan mujahir ini adalah untuk mengembalikan hewan itu ke habitat aslinya di danau. Untuk jangka panjang, ikan itu nanti akan bermanfaat bagi manusia pula,’’ kata Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Plus Sutomo MAg didampingi guru kelas Wiwik Widyastuti.
Sejak Dini
Menurutnya, sejak dini anak dikenalkan untuk menghargai Hak Asasi Binatang agar bisa hidup di lingkungan aslinya. Tidak hanya ikan mujahir, tetapi hewan lain juga memiliki hak hidup di alam, berdampingan dengan makhluk lainnya. Setelah melepaskan ikan ke habitat aslinya, siswa mendapat tugas mengamati lingkungan sekitar. Para siswa antusias mengamati berbagai tumbuhan yang ada di sekitar Rawapening. Siswa mendapat kesempatan bertanya kepada petani dan nelayan setempat. Karena lokasi yang berdekatan dengan tambak, siswa diajak pula melihat budidaya ikan dan bagaimana cara pengelolaannya.
“Anak-anak diperkenalkan dengan lingkungan sekitar dan bagaimana cara menghargai binatang. Karena bagaimana
pun binatang tetap makhluk Allah yang perlu dipelihara,’’ imbuh Wiwik Widyastuti.